29 March 2003

Penipuan Dibalik Undian Berhadiah

Pertanyaan:

Sepanjang saya mengikuti pemberitaan di media massa banyak masyarakat kita yang demikian mudah menjadi korban penipuan dari orang-orang yang tidak bertanggung jawab, dengan mengatasnamakan perusahaan yang sedang menyelenggarakan undian berhadiah. Saya pun hampir menjadi korban penipuan dengan modus seperti itu. Mulanya hanya menerima pesan via SMS bahwa saya mendapat hadiah dari perusahaan telekomunikasi yang sedang berpromosi.

Agar lebih meyakinkan, saya diberi nomor HP untuk konfirmasi dan menghubungi seseorang. Dengan rasa pemasaran, saya menghubungi nomor tersebut dan mengikuti segala petunjuk yang diberikan. Ternyata petunjuk tersebut menuntun saya untuk melakukan transfer. Namun kali ini, ia salah memilih korban karena saldo tabungan saya tidak cukup untuk ditransfer via ATM.

Sebagai konsumen yang sering memanfaatkan produk seharusnya mendapat perlindungan hukum atas penyelenggaraan undian dan tindakan perusahaan yang menyelenggarakannya. Pertanyaan saya kepada para pengasuh, apakah UU Perlindungan Konsumen kita juga telah mengantisipasi peristiwa seperti tersebut di atas?

Gunawan Zakki, Pondok Labu, Jakarta Selatan.

Tanggapan:

Undian berhadiah memang dipandang oleh pelaku usaha sebagai sarana promosi dan penawaran yang efektif dalam menarik calon konsumen untuk membeli/ mengkonsumsinya produknya. Keuntungan yang ditawarkan adalah konsumen memperoleh nilai tukar produk barang dan/ atau jasa melebihi nilai tukar yang dibayarkannya.

Misalnya dengan membeli satu produk elektronik seharga Rp 100 ribu, berpeluang mendapat produk tambahan lain atau sejumlah uang jika memenangkan undian. Kepada setiap pemenangnya akan dikenakan syarat lain berupa sejumlah tanggungan pajak, antara 5% sampai dengan 25%, yang harus dibayar secara tunai atau dengan diambil dari nilai hadiah. Kewajiban pemenang untuk membayar pajak inilah yang sering dijadikan modus penipuan dengan memanfaatkan ketidaktahuan atau kelengahan konsumen/ pemenang undian.

Saudara Gunawan, kejadian yang Saudara alami sebenarnya sudah diantisipasi oleh UU No. 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen dengan menerapkan tranparansi dan akuntabilitas penyelenggaran undian, dan melakukan kriminalisasi terhadap beberapa perbuatan yang dilakukan oleh penyelenggaraan undian.

Pada Pasal 13 ayat (1) UUPK melarang pelaku usaha menawarkan, mempromosikan, atau mengiklankan suatu barang dan/jasa dengan cara menjanjikan pemberian hadiah berupa barang dan/atau jasa lain secara cuma-cuma dengan maksud tidak memberikannya atau memberikan tidak sebagaimana yang dijanjikannya.

Larangan lainnya, pihak penyelenggara yang tidak melakukan penarikan hadiah setelah batas waktu yang dijanjikan, tidak mengumumkan hasilnya melalui media massa, memberikan hadiah yang tidak sesuai dengan yang dijanjikan dan mengganti hadiah yang idak setara dengan nilai hadiah yang dijanjikan.

Selengkapnya hal tersebut tegas dinyatakan pada Pasal 14 UUPK, yang menyebutkan bahwa, ?Pelaku usaha dalam menawarkan barang dan/atau jasa yang ditujukan untuk diperdagangkan dengan memberikan hadiah melalui cara undian, dilarang untuk:

a. tidak melakukan penarikan hadiah setelah batas waktu yang dijanjikan;
b. mengumumkan hasilnya tidak melalui media massa;
c. memberikan hadiah tidak sesuai dengan yang dijanjikan; dan
d. mengganti hadiah yang tidak setara dengan nilai hadiah yang dijanjikan.?
Pelanggaran terhadap ketentuan ini tergolong pelanggaran berat, karena kepada pelakunya diancam dengan sanksi pidana penjara paling lama 2 (dua) tahun atau pidana denda paling banyak Rp 500.000.000,00 (lima ratus juta rupiah).

Pemberian sanksi pidana ini dapat ditambah lagi dengan hukuman berupa perampasan barang tertentu; pengumuman keputusan hakim; pembayaran ganti rugi; perintah penghentian kegiatan tertentu yang menyebabkan timbulnya kerugian konsumen; kewajiban penarikan barang dari peredaran; atau pencabutan izin usaha.

Dengan demikian proses penyelenggaraan undiah berhadiah harus dilakukan dengan transparan dan melibatkan konsumen lain untuk mengawasinya.

Hal ini dimaksudkan agar pihak pelaku usaha sangat berhati-hati dalam menyelenggarakan undian berhadiah, dan penyelenggaraan undian tersebut, baik pemberitahuan penyelenggaraannya maupun hasil atau pemenangnya, dapat diketahui oleh masyarakat luas, serta mengantisipasi agar tidak dimanfaatkan oleh pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab dan mengambil keuntungan dalam program undian tersebut.

Selain itu, sikap proaktif, kesadaran, pengetahuan, kepedulian, kemampuan dan kemandirian konsumen untuk melindungi dirinya sangat diperlukan dalam mencegah meluasnya praktek penipuan semacam itu. Oleh karena itu, kami memberikan apresiasi atas tindakan Saudara yang dapat menjadi cerminan dari seorang konsumen waspada dari segala perangkap penawaran dan promosi pelaku usaha dan pihak lain.

Somi Awan, S.H.
Aktivis Lembaga Konsumen Jakarta-PIRAC


Republika - Sabtu, 29 Maret 2003

http://202.155.15.208/suplemen/cetak_detail.asp?mid=6&id=119860&kat_id=105&kat_id1=146&kat_id2=196

No comments: