02 April 2005

Penipu berkedok penyelenggara undian diringkus


Sularsi

"Kalau minta uang dulu jangan diladeni"

Aksi penipuan dengan modus pemenang undian atau mengatasnamakan pejabat kini marak lagi. Bahkan aksi mereka, sudah meresahkan masyarakat. Polisi pun sudah menggulung salah satu kelompok.

Polda Metro Jaya, pekan lalu menangkap komplotan penipu yang selama ini meresahkan masyarakat. Meski aksi mereka cukup rapi, tapi polisi tak mau kehilangan buruan. Apalagi yang dicatut petinggi mereka sendiri, Kapolda Metro Jaya dan beberapa pejabat tinggi.

Jika penipu pura-pura sebagai pejabat tinggi, maka sasaran korbannya adalah pejabat-pejabat di daerah. "Para korban diminta mentransfer uang jutaan rupiah," jelas Kombes Tjiptono, Kabid Humas Polda Metro. Nama Tjiptono juga kerap dicatut, seolah-olah dia menerbitkan surat pemberitahuan yang selalu dilampirkan penipu kepada calon korban.

Selain mengatasnamakan pejabat, komplotan tersebut juga mencari korban masyarakat awam. Dengan berdalih panitia undian, mereka mengirimkan surat pemberitaan pemenang hadiah. Setelah dihubungi, ujung-ujungnya hanya satu, minta para korban mengirim uang.

Enggan melapor

Aksi mereka memang sangat rapi dan dengan modal yang cukup tinggi. Buktinya, selain menangkap tiga pelaku, masing-masing bernama Ardi (21), Ambodale (22), dan Ibnu Amin (27). Mereka juga menyita 14 lembar kartu keluarga palsu, 54 KTP palsu, 110 buku tabungan dari sembilan bank, 114 kartu ATM, uang tunai Rp 50 juta, dan ratusan lembar undian berhadiah Silver Queen, Pepsodent, dan Indomilk.

Komplotan tersebut, lanjut Tjiptono juga sangat cerdik. "Untuk kasus undian, misalnya, komplotan terlebih dulu mengawasi setiap berita undian yang sedang gencar-gencarnya muncul di koran. Usai pengumuman pemenang, barang bukti undian yang seharusnya dimusnahkan panitia diambil oleh komplotan ini."

Dengan modal pembungkus tiga produk tersebut, anggota komplotan menghubungi para pengirim undian. "Mereka mengaku dari panitia undian dan meminta sejumlah uang untuk ditransfer lewat Anjungan Tunai Mandiri (ATM) sebagai syarat mengeluarkan atau mencairkan hadiah," ujar Tjiptono yang merasa yakin banyak warga masyarakat yang tertipu, tapi enggan melapor ke polisi.

Lantaran modus ini kian marak, Tjiptono berpesan, agar masyarakat lebih berhati-hati. "Kalau ada orang yang meminta uang sebelum mengirimkan hadiahnya, itu berarti penipu dan jangan diladeni," kata Tjiptono.

Dibuat Agar Konsumtif

Hal senada juga diungkapkan Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI). Modus ini, kata Sularsi, dari Bidang Pengaduan dan Hukum sudah muncul sejak tahun 1998 lalu. "Bahkan ada penipu yang mencatut nama pejabat. Namun jarang yang melapor dengan alasan malu dan sebagainya," katanya.

Para korban tak hanya berasal dari Jakarta. Tapi sudah merambah ke kota kabupaten bahkan sampai ke kecamatan, dimana akses telepon masih sangat minim. "Hadiah yang dijanjikan, tidak melulu barang mewah, seperti motor atau mobil, melainkan juga dalam bentuk uang tunai. Misalnya, dalam undian Aduk-Aduk Sedap, para komplotan penipu menjanjikan hadiah uang sebesar Rp 60 juta."

Sularsi mencatat, modus ini semula hanya melalui telepon atau SMS. "Kini mereka sudah berani menggunakan kop surat asli tapi palsu dari perusahaan tertentu. Dalam hal ini perusahaan tersebut seolah-olah menjadi pelaku, padahal sebagai korban."

Dan korbanpun, lanjut Sularsi sudah banyak berjatuhan. "Misalnya seorang ibu asal Sidoarjo, Jawa Timur. Janda pensiunan ini mengadu ke YLKI setelah mendapat surat yang menyatakan dirinya mendapat hadiah mobil, namun harus membayar sejumlah uang. Ibu tadi sempat menjual sebidang tanah warisan yang menjadi penopang hidup mereka. Namun setelah uang dikirimkan, hadiah yang dijanjikan tidak kunjung datang," ujar Sularsi mencontohkan.

Sularsi menduga maraknya aksi penipuan lewat undian berkembang sebagai dampak kemiskinan, lalu bermimpi mendapat hadiah. "Televisi kita setiap hari menyiarkan sinetron yang menceritakan sosok orang yang kaya raya, mobil, rumah mewah dan sebagainya. Hal ini membuat masyarakat bermimpi."

Di sisi lain, masyarakat selalu menghitung dengan keuntungan. "Bayangkan, hanya mengirim uang Rp 5 juta sudah mendapat satu unit mobil senilai puluhan juta. Kan, masih untung," tambahnya.

Satu lagi yang menjadi pemicu terjadinya penipuan lewat undian, kata Sularsi, adalah trik promosi untuk menjaring konsumen. "Hadiah dibuat agar menarik minat masyarakat agar konsumtif. Misalnya, mengirimkan sebanyak-banyaknya sampul sabun agar kesempatan mendapat hadiah semakin banyak. Jika masyarakat berpikir rasional dan tidak konsumtif penipuan tadi tidak perlu terjadi. Misalnya, kalau satu sabun saja cukup untuk satu bulan, untuk apa membeli sampai 10 sabun?"

Dalam menjalankan aksinya, kata Sularsi, komplotan penipu juga menetapkan batas waktu pengiriman uang, misalnya hanya dalam tempo 1-2 hari. "Mendengar rayuan demikian, masyarakat biasanya dengan cepat berhitung keuntungan, lalu tanpa pikir panjang mengirimkan uang sesuai permintaan penipu."

Untuk mempersempit kesempatan orang-orang yang tak bertanggung jawab, pihaknya selalu minta kepada penyelenggara undian agar mencantumkan masa berlaku undian dan diumumkan di media cetak, brosur yang ditempel di toko-toko. "Sebaliknya konsumen wajib mencari informasi melalui distributor, suplier, dan kantor cabang di daerah."

Selain itu, penyelenggara juga wajib memusnahkan berkas undian yang tidak dipakai lagi. Bahkan, pihak jasa pengiriman juga harus diperiksa. "Ada contoh sebuah undian yang seyogianya akan diundi pada bulan Agustus. Namun bulan April sudah ada korban penipuan undian tadi. Korban mengaku sudah mengirim undian, tetapi sebelum suratnya sampai ke alamat penyelenggara undian, justru sudah kembali."

Di dalam surat pemberitahuan itu ada keterangan jadwal undian sudah dimajukan.
"Makanya, kami juga mencurigai komplotan penipu telah bekerja sama dengan jasa pengiriman," ujar Sularsi.

www.tabloidnova.com/articles.asp?id=8171

Nova edisi No 892/XVII/2 April 2005

No comments: