19 July 2005

Mensos bakar 25 ribu surat undian berhadiah palsu

Wilhendra Akmam - detikcom

Jakarta - Awas, para penipu ada di sekeliling Anda! Banyak tukang tipu yang juga memanfaatkan undian berhadiah gratis. Mereka memalsukan surat undian itu. Sudah banyak orang telah tertipu. Untuk mengingatkan penipuan bermodus seperti ini, Menteri Sosial (Mensos) Bachtiar Chamsyah membakar 25 ribu surat undian gratis berhadiah palsu itu.

Surat-surat undian berhadiah palsu itu dimasukkan ke dalam karung-karung dan dimasukkan ke dalam enam gentong yang telah disiapkan di halaman parkir Kantor Departemen Sosial (Depsos), Jl. Salemba Raya, Jakarta Pusat, Selasa (19/7/2005). Setelah itu, Mensos memimpin pembakaran surat-surat palsu itu. Tepuk tangan membahana saat pembakaran itu dilakukan.

Acara seremonial ini dihadiri juga Dirut PT Pos Indonesia Ali Nafiah. Juga hadir para pejabat eselon I dan II jajaran Depsos. Para selebritis juga dikerahkan untuk menghadiri acara ini, antara lain Taufik Savalas, Ruhut Sitompul, dan Adjie Pangestu.

Dalam sambutan sebelum pembakaran surat-surat tersebut, Mensos menyampaikan, surat-surat palsu itu terkumpul lewat operasi penertiban yang dilakukan Depsos bekerja sama dengan PT Pos Indonesia dan Polda Metro Jaya. "Dalam operasi yang telah berjalan lima bulan ini, sudah terkumpul 25.467 surat yang hari ini akan kita musnahkan," ungkap Mensos.

Mensos menjelaskan, pada tahun 2004, Depsos mengeluarkan izin bagi produsen-produsen untuk membuat undian gratis berhadiah. "Misalnya, PT Unilever kita beri izin untuk memberikan undian berhadiah kepada orang yang membeli produk Unilever. Hadiah yang menggiurkan ini yang dimanfaatkan pihak-pihak bertanggung jawab untuk melakukan penipuan," ujar dia.

Sejak tahun lalu, aku Mensos, sudah banyak orang yang tertipu surat palsu ini. Sudah ratusan orang yang menjadi korban mengadu ke Depsos. "Karena itu, kami lakukan (pembakaran) ini, agar masyarakat tidak tertipu lagi," jelas dia.

Pada kesempatan itu, Mensos juga menegaskan, Depsos tidak akan mengeluarkan izin undian yang bersifat lotere. "Kita hanya mengeluarkan izin undian gratis berhadiah. Tidak ada yang berbentuk lotere. Karena itu, saya meminta masyarakat waspada terhadap adanya undian-undian lotere yang mengatasnamakan Depsos," pesan Mensos.

Sementara Ali Nafiah mengatakan, pihaknya telah memasang ciri-ciri dari surat-surat penipuan itu di kantor-kantor pos, agar dapat dikenali oleh petugas pos. Selain itu, PT Pos juga bekerja sama dengan produsen-produsen seperti Unilever untuk menempatkan kontraknya di kantor pos terdekat. "Dengan begitu, masyarakat yang menerima undian berhadiah itu langsung dapat mengkonfirmasi kepada perusahaan secara langsung," ungkap Ali.

Kisah Penipuan

Dalam acara itu, salah seorang bapak mengisahkan kejadian yang dialaminya gara-gara surat undian berhadiah palsu itu. Dia tertipu oleh surat tersebut dan uang Rp 50 juta miliknya langsung amblas.

Saat ketipu, sang bapak ini memang sedang punya gawe besar, membangun sebuah masjid besar, yang nilainya sekitar Rp 2-3 miliar. "Di suatu hari saya mendapatkan surat yang mengatasnamakan Departemen Sosial. Isinya adalah, saya mendapat sumbangan untuk pembangunan masjid sebesar Rp 50 juta," kata dia.

Surat yang mengatasnamakan Depsos itu juga dilengkapi dengan nomor telepon dan alamat kantor. Berbunga-bungalah hati bapak itu. Tanpa pikir panjang, dia menghubungi nomor telepon yang tertera dalam surat itu. "Saya diminta datang ke ATM dan saya diberikan instruksi-instruksi khusus. Saya pun lakukan itu," jelas dia.

Nah setelah itu, melalui lewat telepon, sang penipu meminta bapak itu bertemu di Bank Indonesia (BI). "Di sinilah saya baru mulai curiga. Sebetulnya saya sudah terpikir, apa hubungannya BI dengan sumbangan. Tapi, saya akhirnya saya datang ke BI keesokan harinya dan saya tidak bisa menemui orang itu," kata dia.

"Saya lalu mengecek ATM. Dan betapa kagetnya saya, uang saya di tabungan Rp 50 juta sudah hilang. Saya baru sadar, kalau saya ditipu," imbuhnya. Jadilah, sang bapak yang seharusnya mendapatkan bantuan Rp 50 juta, malah kehilangan Rp 50 juta. Apes! (asy)

http://www.yeste.biz/news/read.php?link=tahun/2005/bulan/07/tgl/19/time/142759/idnews/405692/idkanal/10

No comments: