08 January 2006

Waspadai penipuan berkedok undian

M. Clara Wresti

Siapa yang tidak mau menjadi pemenang pertama sebuah undian. Atau, paling tidak, mendapat barang dengan harga di bawah harga penjualan? Tentu banyak orang bermimpi mendapatkannya. Namun, setiap orang harus berhati-hati karena tidak semua undian itu resmi. Bisa-bisa bukannya dapat hadiah utama, malah duit melayang.

Beberapa waktu lalu hypermarket Carrefour dan produsen telepon genggam Nokia memasang iklan di harian Kompas. Isinya pemberitahuan kepada masyarakat umum untuk tidak terjebak dalam penipuan berkedok undian ulang tahun Carrefour dan undian kartu garansi Nokia.

Praktik penipuan melalui undian memang sudah lama berlangsung. Ada yang melalui surat pemberitahuan, ada juga yang melalui layanan pesan singkat atau SMS. Sudah banyak masyarakat tahu soal penipuan itu, tetapi pada kenyataannya masih saja ada yang tertipu.

Menurut Sularsi dari Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI), praktik penipuan berkedok undian ini muncul pertama kali tahun 1998. Ketika itu krisis ekonomi sedang melanda Indonesia.

”Modus pertama yang mereka pakai adalah melalui telepon. Mereka mengincar korban yang memiliki telepon dan meminta korban segera mengirim uang melalui bank dengan alasan agar hadiah bisa segera dikirim,” tutur Sularsi yang menerima puluhan surat pengaduan soal penipuan semacam ini.

Setelah masyarakat tidak lagi percaya kepada pemberitahuan melalui telepon, para penipu ini mulai memakai surat pemberitahuan resmi, lengkap dengan kop dan cap surat asli. Surat pemberitahuan ini tidak hanya mencantumkan nomor telepon genggam yang bisa dihubungi, juga mencantumkan alamat dan nomor telepon statis (bukan nomor telepon genggam). Dengan cara ini, tentu saja orang yakin surat pemberitahuan ini resmi dan benar. Akhirnya masyarakat tidak waspada karena merasa memegang alamat dan nomor telepon statis.

”Ketika mereka menghubungi nomor telepon genggam, lalu akhirnya tertipu dan bersedia mengirimkan uang sejumlah yang diminta, dia tetap merasa aman karena memegang alamat dan nomor telepon itu. Padahal, ketika dicek, alamat dan nomor telepon itu palsu,” kata Sularsi.

Dalam surat pemberitahuan pemenang undian kartu garansi Nokia, penipu memakai nama PT Multi Citra Adhiprima dengan alamat Jalan Batu Tulis Raya Nomor 45B, Jakarta 10120. Telepon 570.6007, faksimile 570.6000. Setelah dicek, tidak ada nomor 45B di Jalan Batu Tulis Raya. Yang ada adalah nomor 45 dan bukan kantor, melainkan restoran. Sedangkan nomor telepon 570.6007 tidak pernah bisa dihubungi karena sibuk.

”Saat ini penipu tidak lagi menyasar warga Ibu Kota, tetapi juga orang daerah yang tidak mempunyai akses informasi luas. Orang daerah tentu kesulitan bila mencari alamat yang tertera di kop surat. Agak sulit buat orang daerah, terutama dari di luar Jawa, untuk mengecek langsung alamat di Jakarta,” ucap Sularsi.

Sularsi bercerita, dia pernah mendapat pengaduan dari seseorang dari sebuah kota di Jawa Tengah yang datang ke Jakarta dengan menyewa mobil. Dia datang untuk mengambil hadiah sambil menyetor uang pajak yang diminta di surat itu. ”Dia memang tidak jadi tertipu karena tidak berhasil menemukan alamat yang tercantum. Namun, dia telah mengeluarkan uang untuk sewa mobil,” kata Sularsi.

Yang juga membuat korban sangat yakin adalah penipu itu juga menempelkan guntingan kartu garansi Nokia atau kupon undian Carrefour yang ditulis oleh korban di dalam surat pemberitahuan itu. Selain itu, penipu juga melampirkan surat pemberitahuan pajak dan surat dari kepolisian bahwa undian ini asli. Padahal, surat pajak dan surat kepolisian ini dibuat sendiri oleh penipu.

”Lampiran dari Direktorat Pajak, kepolisian, notaris, atau Departemen Sosial adalah salah satu ciri dari penipuan. Namun, guntingan asli seperti kartu garansi atau kupon undian memang akan membuat masyarakat bimbang. Ini merupakan tanggung jawab perusahaan itu, dalam hal ini Nokia dan Carrefour. Jika ada warga yang tertipu, mereka harus bertanggung jawab karena mereka lalai dalam menjaga data konsumen. Seharusnya jika memang mereka sudah tidak memakai data itu, mereka harus memusnahkannya. Ingat, konsumen punya hak untuk keamanan,” tegas Sularsi.

Permainkan emosi

Sularsi mengemukakan, ada beberapa ciri yang bisa diwaspadai masyarakat jika mendapat surat pemberitahuan sebagai pemenang undian.

Selain melampirkan surat-surat dari instansi resmi, biasanya surat penipuan itu diterima pada saat jangka waktu pengambilan sudah hampir habis atau lewat satu-dua hari. Waktu pemberitahuan mendadak ini memang disengaja agar korban tidak bisa berpikir dengan rasional. Dia merasa harus segera mengirim uang tebusan agar hadiah tidak hangus.

”Penipu mempermainkan emosi korban. Jika emosi bangkit, orang akan mudah terjebak. Dia hanya berpikir untung rugi saja, tanpa mencari dulu kebenarannya,” kata Sularsi.

Agar tidak terjebak, Sularsi menyarankan, jika mendapat surat pemberitahuan pemenang undian, sebaiknya jangan terlalu gembira. Tenangkan diri sambil mengingat apakah pernah mengikuti undian itu. Jika pernah, tanyakan kepada pemilik produk siapakah pemenangnya, bukan kepada penyelenggara.

”Jangan sekali-sekali mentransfer uang sebelum mendapat informasi ini. Jika memang dia pemenangnya, tidak usah terburu-buru dalam mengambil hadiah karena menurut UU Undian Nomor 22 Tahun 1954, batas pengambilan hadiah adalah enam bulan. Jika penyelenggara sudah menyerahkan kepada Departemen Sosial, hadiah itu tetap hak pemenang asalkan masih dalam jangka waktu enam bulan. Hanya saja pemenang mengambilnya di Departemen Sosial. Jadi, tidak usah terburu-buru karena jika terburu-buru, orang tidak bisa berpikir panjang,” ujar Sularsi.

Kompas - 8 Januari 2006

http://www.kompas.com/kompas-cetak/0601/08/konsumen/2276334.htm

No comments: