31 July 2007

Depsos lacak penipuan undian

Penipuan berkedok undian berhadiah tidak ada tanda-tanda bakal berhenti. Depsos pun tidak tinggal diam. Sebagai lembaga yang mengurusi masalah undi-mengundi, Depsos bekerja sama dengan polisi melacak keberadaan sang penipu itu.

"Ada 179 pegawai kita dilatih Bareskrim," kata Dirjen Bantuan dan Jaminan Sosial (Banjamsos) Ghozali H Situmorang di Jakarta, Senin (30/7).

Tugas mereka melacak kebenaran pengaduan. Jika ditemukan unsur pidana penipuan, maka tindak lanjutnya diserahkan pada kepolisian setempat. Tugas lain dari tim Depsos adalah menyelidiki izin menggelar undian. "Kita periksa apakah izin-izin itu bener atau palsu," kata Ghozali.

Keberadaan tim pemburu penipu itu tersebar di seluruh Indonesia, mulai dari tingkat pusat hingga daerah. Mereka, ungkap Ghozali, telah berhasil membantu polisi menangkap beberapa penipu berkedok undian berhadiah.

Namun, dibanding dengan yang tertangkap, Ghozali mengaku lebih banyak yang masih berkeliaran bebas. "Maklum saja, mereka (penipu) selalu ada saja caranya," pungkasnya.

Tinggal di Daerah
Jaringan mafia penipuan tidak hanya bergerak di kota-kota besar, daerah terpencil pun jadi sasaran mereka. Korban di daerah, sesuai data Depsos, lebih banyak dibanding di kota.

Ini bisa terjadi, karena informasi yang diperoleh orang-orang yang tinggal di kota lebih banyak dan cepat. "Di daerah-daerah atau kabupaten dan daerah terpencil, jarang mendapatkan informasi," kata Ghozali.

Tren penipuan, kata dia, saat ini juga telah berubah. Jika dulu menggunakan pos, maka kini kebanyakan penipu menggunakan media telepon atau SMS. Depsos sudah berusaha mencegah jatuhnya korban penipuan dengan cara-cara sosialisasi lewat media. "Tapi penipu lebih canggih, selalu berganti teknik dan cara," ujarnya.

Dc | Global | Jakarta

Harian Global (Medan) - Tuesday 31 July 2007

Oleh Redaksi Web - Tuesday 31 July 2007 - 14:10:21

No comments: