01 July 2007

Penipu berkedok penyelenggara undian diringkus: "Kalau minta uang dulu jangan dikasih"







Aksi penipuan dengan modus pemenang undian atau mengatasnamakan pejabat kini marak lagi. Bahkan aksi mereka, sudah meresahkan masyarakat. Polisi pun sudah menggulung salah satu kelompok.

Polda Metro Jaya, pekan lalu menangkap komplotan penipu yang selama ini meresahkan masyarakat. Meski aksi mereka cukup rapi, tapi polisi tak mau kehilangan buruan. Apalagi yang dicatut petinggi mereka sendiri, Kapolda Metro Jaya dan beberapa pejabat tinggi.

Jika penipu pura-pura sebagai pejabat tinggi, maka sasaran korbannya adalah pejabat-pejabat di daerah. "Para korban diminta mentransfer uang jutaan rupiah," jelas Kombes Tjiptono, Kabid Humas Polda Metro. Nama Tjiptono juga kerap dicatut, seolah-olah dia menerbitkan surat pemberitahuan yang selalu dilampirkan penipu kepada calon korban.

Selain mengatasnamakan pejabat, komplotan tersebut juga mencari korban masyarakat awam. Dengan berdalih panitia undian, mereka mengirimkan surat pemberitaan pemenang hadiah. Setelah dihubungi, ujung-ujungnya hanya satu, minta para korban mengirim uang.

Enggan melapor

Aksi mereka memang sangat rapi dan dengan modal yang cukup tinggi. Buktinya, selain menangkap tiga pelaku, masing-masing bernama Ardi (21), Ambodale (22), dan Ibnu Amin (27). Mereka juga menyita 14 lembar kartu keluarga palsu, 54 KTP palsu, 110 buku tabungan dari sembilan bank, 114 kartu ATM, uang tunai Rp 50 juta, dan ratusan lembar undian berhadiah Silver Queen, Pepsodent, dan Indomilk.

Komplotan tersebut, lanjut Tjiptono juga sangat cerdik. "Untuk kasus undian, misalnya, komplotan terlebih dulu mengawasi setiap berita undian yang sedang gencar-gencarnya muncul di koran. Usai pengumuman pemenang, barang bukti undian yang seharusnya dimusnahkan panitia diambil oleh komplotan ini."

Dengan modal pembungkus tiga produk tersebut, anggota komplotan menghubungi para pengirim undian. "Mereka mengaku dari panitia undian dan meminta sejumlah uang untuk ditransfer lewat Anjungan Tunai Mandiri (ATM) sebagai syarat mengeluarkan atau mencairkan hadiah," ujar Tjiptono yang merasa yakin banyak warga masyarakat yang tertipu, tapi enggan melapor ke polisi.

Lantaran modus ini kian marak, Tjiptono berpesan, agar masyarakat lebih berhati-hati. "Kalau ada orang yang meminta uang sebelum mengirimkan hadiahnya, itu berarti penipu dan jangan diladeni," kata Tjiptono.

Dibuat Agar Konsumtif

Hal senada juga diungkapkan Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI). Modus ini, kata Sularsi, dari Bidang Pengaduan dan Hukum sudah muncul sejak tahun 1998 lalu. "Bahkan ada penipu yang mencatut nama pejabat. Namun jarang yang melapor dengan alasan malu dan sebagainya," katanya.

Para korban tak hanya berasal dari Jakarta. Tapi sudah merambah ke kota kabupaten bahkan sampai ke kecamatan, dimana akses telepon masih sangat minim. "Hadiah yang dijanjikan, tidak melulu barang mewah, seperti motor atau mobil, melainkan juga dalam bentuk uang tunai. Misalnya, dalam undian Aduk-aduk Sedap, para komplotan penipu menjanjikan hadiah uang sebesar Rp 60 juta."

Sularsi mencatat, modus ini semula hanya melalui telepon atau SMS. "Kini mereka sudah berani menggunakan kop surat asli tapi palsu dari perusahaan tertentu. Dalam hal ini perusahaan tersebut seolah-olah menjadi pelaku, padahal sebagai korban."

Dan korban pun, lanjut Sularsi sudah banyak berjatuhan. "Misalnya seorang ibu asal Sidoarjo, Jawa Timur. Janda pensiunan ini mengadu ke YLKI setelah mendapat surat yang menyatakan dirinya mendapat hadiah mobil, namun harus membayar sejumlah uang. Ibu tadi sempat menjual sebidang tanah warisan yang menjadi penopang hidup mereka. Namun setelah uang dikirimkan, hadiah yang dijanjikan tidak kunjung datang," ujar Sularsi mencontohkan.

Sularsi menduga maraknya aksi penipuan lewat undian berkembang sebagai dampak kemiskinan, lalu bermimpi mendapat hadiah. "Televisi kita setiap hari menyiarkan sinetron yang menceritakan sosok orang yang kaya raya, mobil, rumah mewah dan sebagainya. Hal ini membuat masyarakat bermimpi."

Di sisi lain, masyarakat selalu menghitung dengan keuntungan. "Bayangkan, hanya mengirim uang Rp 5 juta sudah mendapat satu unit mobil senilai puluhan juta. Kan, masih untung," tambahnya.

Satu lagi yang menjadi pemicu terjadinya penipuan lewat undian, kata Sularsi, adalah trik promosi untuk menjaring konsumen. "Hadiah dibuat agar menarik minat masyarakat agar konsumtif. Misalnya, mengirimkan sebanyak-banyaknya sampul sabun agar kesempatan mendapat hadiah semakin banyak. Jika masyarakat berpikir rasional dan tidak konsumtif penipuan tadi tidak perlu terjadi. Misalnya, kalau satu sabun saja cukup untuk satu bulan, untuk apa membeli sampai 10 sabun?"

Dalam menjalankan aksinya, kata Sularsi, komplotan penipu juga menetapkan batas waktu pengiriman uang, misalnya hanya dalam tempo 1-2 hari. "Mendengar rayuan demikian, masyarakat biasanya dengan cepat berhitung keuntungan, lalu tanpa pikir panjang mengirimkan uang sesuai permintaan penipu."

Untuk mempersempit kesempatan orang-orang yang tak bertanggung jawab, pihaknya selalu minta kepada penyelenggara undian agar mencantumkan masa berlaku undian dan diumumkan di media cetak, brosur yang ditempel di toko-toko. "Sebaliknya konsumen wajib mencari informasi melalui distributor, suplier, dan kantor cabang di daerah."

Selain itu, penyelenggara juga wajib memusnahkan berkas undian yang tidak dipakai lagi. Bahkan, pihak jasa pengiriman juga harus diperiksa. "Ada contoh sebuah undian yang seyogianya akan diundi pada bulan Agustus. Namun bulan April sudah ada korban penipuan undian tadi. Korban mengaku sudah mengirim undian, tetapi sebelum suratnya sampai ke alamat penyelenggara undian, justru sudah kembali."

Di dalam surat pemberitahuan itu ada keterangan jadwal undian sudah dimajukan. "Makanya, kami juga mencurigai komplotan penipu telah bekerja sama dengan jasa pengiriman," ujar Sularsi.

Kiat agar terhindar penipuan

Apabila menerima informasi yang mengatakan Anda sebagai pemenang, melalui SMS, surat, atau telepon, maka Anda harus menanggapinya secara rasional.

Pertama, apakah pernah ikut berpartisipasi dalam undian berhadiah? Kalau tidak pernah, tentu tidak mungkin Anda mendapat hadiah tersebut.

Kedua, jangan mengirimkan uang sesen pun melalui transfer bank.

Ketiga, segera konfirmasi kembali, namun jangan menghubungi nomor handphone (HP). Sebaiknya hubungi nomor telepon kantor, atau nomor faximil perusahaan penyelenggara undian. "Soalnya, nomor telepon kantor maupun faksimili bisa dilacak dengan mudah. Sebaliknya nomor HP sukar dilacak," kata Sularsi.

Sesuai dengan UU Perlindungan Konsumen No 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen, konsumen memiliki waktu selama 6 bulan untuk melacak kebenaran dari informasi tentang undian tersebut. Bukan sehari atau dua hari seperti yang selama ini dilakukan para penipu. "Lebih baik kita lebih lama mengecek agar kita waspada. Daripada hadiah tidak dapat uang pun melayang."

Tabloid Nova juga ikut dicatut

Modus penipuan lewat surat pemberitahuan sebagai pemenang kuis atau undian memang makin marak belakangan ini. Salah satu lembaga yang dicatut namanya adalah Tabloid NOVA.

Modus penipuannya memang selalu sama. Penipu mengirim surat ke korban yang memberi tahu sebagai pemenang. Hadiah yang ditawarkan pun sangat menggiurkan. Mulai dari Toyota Kijang GLX, Avanza, Kawasaki Ninja R 150, hingga uang tabungan senilai Rp 100 juta. Siapa, sih, yang tak ngiler mendapat rezeki nompok seperti itu.

Untuk meyakinkan para calon korban, penipu juga mengirim potongan kartu pos yang pernah dikirim para korban, surat dari Dirjen Pajak, Depsos, notaris, dan kepolisian. Meski sekilas tampak asli, tapi semua surat, tanda tangan, dan stempel itu palsu semua. Jadi, selain mencatut nama tabloid NOVA, para penipu juga memalsukan tanda tangan, kop surat, serta stempel instansi.

Anehnya, surat pemberitahuan tersebut kerap dikirim dengan surat tercatat yang datang sengaja terlambat. Atau saat menjelang akhir pekan. Ini memang membuat calon korban tidak bisa konfirmasi ke instansi yang dicatut namanya. Nah, saat menghubungi penipu di nomor handphone prabayar yang dicantumkan tebal-tebal di surat pemberitahuan, maka penipu pasti akan diminta untuk segera mentransfer pajak pemenang ke rekening seseorang.

Penipu juga menggertak atau mengancam akan menyerahkan hadiah tersebut ke Depsos, jika tak segera ditransfer. "Pokoknya, dia membuat kami tak bisa berpikir jernih dan panik. Untungnya, ada orang yang memberi tahu bahwa itu hanya penipuan," jelas salah seorang korban yang mengadu ke Redaksi NOVA.

Bahkan saat dia sadar ditipu dan berhasil menghubungi lagi si penipu tersebut, maka jawaban dari penipu seperti orang gila, sambil ngoceh dengan kata-kata kotor. "Sepertinya dia enggak merasa bersalah. Saya berharap komplotan ini segera diringkus polisi," tambahnya. Harapan Pembaca NOVA tersebut, juga harapan kita semua.

***

http://www.tabloidnova.com/articles.asp?id=8171

No comments: