31 July 2007

Penipuan Undian Berhadiah Meningkat

JAKARTA -- Masyarakat harus terus berhati-hati terhadap segala macam bentuk kuis atau undian berhadiah yang diluncurkan sejumlah perusahaan untuk memasarkan produknya. Pasalnya, Departemen Sosial mengungkapkan, modus penipuan yang dilakukan melalui undian berhadiah ini semakin meningkat dari tahun ke tahun.

Berdasarkan data yang diterima Departemen Sosial (Depsos), pada tahun 2005 pemerintah yang bekerja sama dengan PT Pos Indonesia berhasil membakar 40 ribu surat undian palsu. Kemudian pada tahun 2006, angkanya naik menjadi 44.281 amplop undian palsu yang dikirim melalui Pos Indonesia. Surat undian palsu ini pun sudah dimusnahkan pada 20 Januari 2007 lalu.

Kendati berbagai upaya pencegahan termasuk imbauan kepada masyarakat terus dilakukan, Depsos masih menemukan gejala meningkatnya modus penipuan berkedok undian berhadiah ini.

"Selama Januari sampai Juli ini, Depsos dan PT Pos Indonesia sudah mengumpulkan 13.932 amplop undian palsu," ungkap Gazali H Situmorang, Direktur Jenderal Bantuan dan Jaminan Sosial Depsos pada acara Kampanye Waspada Penipuan Berkedok Undian Berhadiah, di Jakarta, Senin (30/7).

Bila ditarik periode satu tahun ke belakang dari Juli 2006, kata Gazali, Depsos dan Dinas Sosial yang tersebar di seluruh Indonesia telah menerima lebih dari 100 ribu laporan dari masyarakat mengenai kupon palsu.

Menurut Gazali, maraknya aksi penipuan berkedok undian berhadiah ini tidak saja merugikan moril maupun materiil para konsumen. Produsen juga kena imbasnya.

Di antara kerugian yang diderita produsen, lanjut Gazali, yaitu hal-hal yang berkaitan dengan reputasi dan kepercayaan masyarakat terhadap produk-produk yang dihasilkankan.

Dikatakan, para pelaku penipuan ini juga sudah mulai meninggalkan modus lama aksinya yaitu dengan mengirimkan surat kepada konsumen sebuah produk yang berisi tentang pemberitahuan menang undian. "Mereka kini sudah pakai modus baru," ungkap Gazali.

Modus baru yang dimaksudkan Gazali yaitu pelaku memasukkan kupon palsu ke dalam kemasan berbagai produk. Dalam kupon itu disebutkan seolah-olah konsumen memenangkan hadiah tertentu dan diminta untuk menghubungi nomor telepon tertentu.

Konsumen yang menelepon ke nomor tersebut, Gazali menerangkan, diminta untuk mentransfer sejumlah uang ke rekening penipu dengan beragam dalih.

"Tak tanggung-tanggung, kupon palsu itu banyak yang dimasukkan ke dalam berbagai produk dari perusahaan besar dan ternama seperti Unilever Indonesia, Nestle Indonesia, Frisian Flag Indonesia, dan Sari Husada." Atas kondisi ini, Gazali mengimbau, masyarakat agar waspada terhadap segala bentuk undian berhadiah yang beredar di masyarakat. "Jangan hanya karena tergiur hadiah besar, malah tertipu dan rugi sendiri."

(ade )

Republika - Selasa, 31 Juli 2007

http://www.republika.co.id/koran_detail.asp?id=301895&kat_id=6

No comments: