31 July 2007

PT Pos Indonesia gagalkan pengiriman 14 ribu amplop undian palsu

Para penipu memasukkan kupon palsu ke kemasan berbagai produk.

Reh Atemalem Susanti


Dirjen Bantuan dan Jaminan Sosial Chazali H Situmorang mengingatkan konsumen agar mewaspadai aneka undian berhadiah. Sebab, tren penipuan berkedok undian berhadiah tiap tahun kian meningkat. "Hingga Juli ini, PT Pos Indonesia menggagalkan pengiriman 13.932 amplop surat undian berhadiah," kata Chazali dalam kampanye
"Waspada Penipuan Berkedok Undian Berhadiah" di Pasar Rumput, Jaksel, kemarin. Kampanye, antara lain, ditandai dengan penyebaran sejuta poster yang ditempel di toko-toko, supermarket, hipermarket, pasar tradisional, serta kantor cabang dan anjungan tunai mandiri (ATM) BNI.

Pada 2005, Depsos, yang bermitra dengan PT Pos, membakar 40 ribu surat pengumuman undian palsu. Pada 2006 jumlahnya meningkat menjadi 44.281 surat. Sejak Juli 2006 hingga Juli 2007, Chazali melanjutkan, Departemen dan Dinas Sosial menerima lebih dari 100 ribu pengaduan serta laporan masyarakat mengenai kupon palsu. Pengaduan sejenis juga diterima empat perusahaan yang kerap melakukan undian berhadiah, yakni Unilever, Nestle, Frisian Flag, dan Sari Husada. Keempat perusahaan tersebut menerima 75 ribu laporan masyarakat. "Jumlah itu tidak sedikit sehingga masyarakat harus lebih waspada agar terhindar dari penipuan," ujar Chazali.

Untuk meyakinkan masyarakat, menurut Direktur Bisnis Kurir dan Operasi PT Pos Indonesia Soebandi, undian yang palsu biasanya dilengkapi dengan berbagai macam surat keterangan, seperti surat kepolisian, pengesahan notaris, pemda, sertifikat undian dan keterangan pengumuman undian asli. "Suratnya tebal sekali, dilakukan untuk mengelabui agar konsumen menjadi yakin undian itu asli," ujarnya.

Saat ini, dia melanjutkan, para penipu menggunakan modus lain, yaitu dengan memasukkan kupon palsu ke kemasan berbagai produk. Dalam kupon itu disebutkan seolah-olah konsumen memenangi hadiah tertentu dan diminta untuk menghubungi nomor telepon tertentu. Konsumen yang menelpon akan diminta mentransfer sejumlah uang ke rekening penipu dengan beragam dalih. "Berbagai produk yang dihasilkan oleh empat perusahaan di Indonesia, seperti Unilever, Nestle, Frisian Flag dan Sari husada, tak luput dari sasaran," katanya.

Direktur Human Resources and Corporate Relation PT Unilever Tbk. Joseph Bataona menambahkan, undian berhadiah yang diberikan oleh Unilever tidak pernah menganjurkan agar masyarakat mentransfer sejumlah uang. "Jika diminta untuk mentransfer sejumlah uang, berarti itu undian palsu," dia menegaskan.

Jika penipu mengharuskan membayar pajak undian daan mengancam hadiah akan segera dilelang jika tidak segera diambil, kupon undian tersebut harus diabaikan. "Hadiah yang tidak diambil tidak pernah dilelang, tapi diserahkan ke Depsos," kata Chazali.

Koran Tempo - 31 Juli 07

No comments: