22 August 2007

Penipuan berkedok undian merajalela

Perburuan terhadap komplotan penipu berkedok undian promo produk di sejumlah kota-kota besar seperti Jakarta, Makasar, Tangerang dan Surabaya terus dilakukan. Belasan pelaku telah tertangkap. Namun demikian jumlah korban terus berjatuhan dan uang miliaran rupiah pun berpindah tangan.
 
Koordinator Program MAKI (Masyarakat Anti Kejahatan Indonesia), Radityo Djadjoeri  dalam jumpa pers di Jakarta, Jumat (17/8), mengatakan, upaya mencegah praktik penipuan berkedok undian berhadiah harus dikampanyekan semua pihak.
 
Kampanye "Waspada Penipuan Berkedok Undian dan Promo Berhadiah" dengan kegiatan sejuta poster di seluruh Indonesia yang dilakukan Depsos RI bersama Unilever Indonesia, Nestle Indonesia, Frisian Flag Indonesia, Sari Husada, Pos Indonesia, dan BNI pun dilakukan.
 
"Kampanye itu terus disosialisasi agar masyarakat lebih waspada terhadap berbagai modus penipuan melalui undian berhadiah. Jika lengah atau tergiur dengan hadiah yang diberikan, dipastikan kita akan menjadi korban," katanya mengingatkan.
 
Dijelaskan Radityo, saat ini banyak promosi produk di dalam kemasan menyatakan konsumen atau seseorang menjadi pemenang, mulai dari uang, alat elektronika, sepeda motor sampai mobil mewah. Padahal itu palsu karena kemasan telah dibuka terlebih dahulu, kemudian diisi undian lalu dijual kembali.
 
Penipuan undian berhadiah ini, menurut dia, telah menyebar ke seluruh pelosok Nusantara dan sangat meresahkan. Hampir semua produk, baik yang bersifat kebutuhan primer maupun sekunder sudah pernah dimasukkan kupon palsu yang berisi informasi menyesatkan dengan modus"jaring laba-laba" (spider web).
 
Sebanyak 6.000 laporan setiap bulan dari masyarakat yang melapor ke produsen dan Depsos serta Dinas Sosial di awal 2007 ini. Bahkan jika 10 persen korban telah mentransfer dana ke penipu, sehingga jika rata-rata korban mentransfer Rp 2,5 juta, berarti yang sudah diterima komplotan penipu tersebut Rp 1,5 miliar per bulan.
 
Karenanya, ia mengingatkan promo berhadiah yang sebenarnya dari perusahaan sama sekali tidak pernah minta transfer uang, karena pajak dan semua biaya ditanggung perusahaan yang mengadakan undian berhadiah. "Jadi, apabila ada permintaan untuk mentransfer uang dengan dalih apapun, itu pasti penipuan," tandasnya.
 
Khusus Unilever, memang menggelar Rinso "Ayo Main Bersama Jangan Takut Kotor-Banyak Belajar Hadiah Miliaran" (sampai dengan 31 Agustus 2007).
 
(pur)
 
Radar Surabaya - Sabtu, 18 August 2007


Salam Anti Kejahatan!


MAKI
Masyarakat Anti Kejahatan Indonesia


e-mail: maki.news@yahoo.com  
blog: http://maki-online.blogspot.com  
mailing list: http://www.yahoogroups.com/group/maki-online
 

No comments: