22 August 2007

Penipuan berkedok undian keruk Rp 1,5 M per bulan

Upaya kepolisian memburu komplotan penipu berkedok undian promo produk di Makasar, Jakarta, Tangerang, dan beberapa kota lainnya belum memberikan efek jera. Terbukti, sampai sekarang masih banyak korban berjatuhan bahkan dipastikan sebanyak Rp 1,5 miliar per bulan dana konsumen korban penipuan masuk ke pundi-pundi para penipu.
Untuk itu, Koordinator Program MAKI (Masyarakat Anti Kejahatan Indonesia), Radityo Djadjoeri mengatakan di Jakarta baru lalu, bahwa upaya mencegah penipuan berkedok undian berhadiah harus dikampanyekan semua pihak.
 
Menurutnya kampanye "Waspada Penipuan Berkedok Undian dan Promo Berhadiah" dengan kegiatan sejuta poster di seluruh Indonesia yang dilakukan Depsos RI bersama Unilever Indonesia, Nestle Indonesia, Frisian Flag Indonesia, Sari Husada, Pos Indonesia, dan BNI dipastikan efektif.
 
Menurutnya kampanye itu untuk sosialisasi ke masyarakat agar lebih waspada terhadap berbagai modus penipuan melalui undian berhadiah. Dijelaskan, saat ini banyak promosi produk di dalam kemasan menyatakan konsumen atau seseorang menjadi pemenang padahal itu palsu karena kemasan telah dibuka terlebih dahulu kemudian diisi undian lalu dijual kembali.
 
Ia menjelaskan bahwa, dari analisa Missi selaku lucky draw management, ternyata penipuan undian berhadiah ini telah menyebar keseluruh pelosok Nusantara dan sangat meresahkan. Hampir semua produk, baik yang bersifat primer maupun sekunder sudah pernah dimasukkan kupon palsu yang berisi informasi menyesatkan dengan modus "jaring laba-laba" (spider web).
 
Dijelaskannya, sebanyak 6.000 laporan setiap bulan dari masyarakat yang melapor ke produsen dan Depsos serta Dinas Sosial di awal 2007ini. Bahkan 10 persen korban telah mentransfer dana ke penipu, sehingga jika rata-rata korban mentransfer Rp 2,5 juta, berarti yang sudah diterima komplotan penipu tersebut Rp 1,5 miliar per bulan.
 
Untuk itu, ia mengingatkan promo berhadiah yang sebenarnya dari perusahaan sama sekali tidak pernah minta transferuang, karena pajak dan semua biaya ditanggung perusahaan yang mengadakan undian berhadiah. "Jadi, apabila ada permintaan untuk mentransfer uang dengan dalih apapun, itu pasti penipuan," ungkap Radityo.
 
Ia mengatakan, agar konsumen tidak tertipu maka ada agenda promosi dari produsen, seperti Unilever menggelar Rinso "Ayo Bermain Bersama Jangan Takut Kotor - Banyak Belajar Hadiah Miliaran" (s/d 31 Agustus 2007). Lifebuoy "Sehat Ada di Tangan Kita - Temukan 5 juta rupiah dalam sabun  Lifebuoy" (s/d 31 Agustus 2007) dan NoMos "Gosok NoMos Dapat Rejeki" (s/d 31 Juli 2007). Diluar itu pasti penipuan.
 
Sementara Nestle promosi stiker berhadiah didalam kemasan yang sudah berakhir Juni 2007, yaitu NESCAFE Mixes: Kejutan Heboh NESCAFE, temukan hologram sticker didalam kemasan, berhadiah 1 juta (periode: Januari-Juni 2007). Adapun Frisian Flag dan Sari Husada sama sekali belum menggelar promo undian, jadi jangan sampai tertipu.
 
Untuk itu, ia mengingatkan agar tidak melayani permintaan transfer uang, periksalah keaslian kupon dengan menghubungi telepon resmi produsen yang tercantum pada kemasan produk atau hubungi 108 untuk informasi telepon resmi produsen. "Hadiah yang tidak diambil dalam 6 bulan akan diserahkan ke Depsos, jadi tidak ada hadiah yang dilelang. Bagi pembuat dan pemakai surat palsu diancam hukuman 6 tahun penjara (pasal 263 ayat (1), (2) KUHP," katanya.
 
 
Pos Metro - Sabtu, 18 August 07


Salam Anti Kejahatan!


MAKI
Masyarakat Anti Kejahatan Indonesia


e-mail: maki.news@yahoo.com  
blog: http://maki-online.blogspot.com  
mailing list: http://www.yahoogroups.com/group/maki-online
 

No comments: