19 August 2007

Waspadai Kupon Berhadiah Langsung

Sebagai konsumen, Anda sebaiknya mewaspadai berbagai kupon berhadiah atau promosi. Sudah menjadi pengetahuan umum tawaran tersebut tidak sedikit yang merupakan penipuan. Lebih gawat lagi, kupon tersebut dapat membahayakan kesehatan.
 
Dalam diskusi yang diadakan Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman Indonesia (GAPMMI) bersama Departemen Sosial, PT Pos Indonesia (persero), Bank Indonesia, PT Unilever Indonesia Tbk, PT Nestle Indonesia, PT Frisian Flag Indonesia, dan PT Sari Husada Tbk, di Jakarta awal Agustus lalu, terungkap, modus penipuan tersebut dapat membahayakan keselamatan konsumen.
 
Salah satu modus penipuan adalah dengan memasukkan kupon langsung ke dalam kemasan suatu produk. Pelaku membeli produk dalam jumlah besar. Mereka membuka kemasan produk dan memasukkan kupon palsu ke dalamnya, biasanya menginformasikan jenis hadiah dan nomor telepon yang harus dihubungi. Mereka lalu diam-diam menaruh produk tersebut satu per satu di rak pusat perbelanjaan, toko, dan warung.
 
Pelaku lalu merekatkan kemasan ini lagi menggunakan lem atau setrika dan tampilannya rapi seperti asli. "Sulit membedakan mana kemasan dari pabrik dan yang telah dibuka," kata Human Resources & Corporate Affairs Director Frisian Flag Indonesia Hendro H Poedjono.
 
Yang mengkhawatirkan, sekarang pelaku nekat membuka kemasan aluminium pada produk susu dan memasukkan kupon ke dalamnya. Hendro mengatakan, pihaknya sudah menerima pengaduan konsumen mengenai hal ini. Dari laporan yang masuk, konsumen tidak curiga ada yang salah dengan kemasan. Mereka melapor karena merasa tertipu oleh janji di dalam kupon.
 
"Ini sangat membahayakan sebab produk susu mudah terkontaminasi bakteri berbahaya," kata Hendro. Dampak kesehatan yang dapat muncul akibat susu terkontaminasi bakteri tersebut paling tidak diare dan mual, terutama bila yang meminum susu adalah anak balita.
 
Mengkhawatirkan
 
Penipuan seperti ini sebenarnya sudah terjadi sejak tahun 2004 dan kini jumlah serta caranya semakin mengkhawatirkan. Laporan langsung ke Badan Perlindungan Konsumen Nasional selama Maret 2007 ada 17 kasus penipuan dan melalui lembaga swadaya masyarakat mencapai ratusan kasus.
 
Sementara itu, Kamar Dagang dan Industri (Kadin) mencatat ribuan kasus penipuan terjadi, di antaranya 4.000 kasus selama Mei-Juli menyangkut produk PT Unilever Indonesia, 3.500 kasus mengatasnamakan PT Sari Husada Tbk, 1.600 kasus (September 2006-Juni 2007) mengatasnamakan PT Nestle dengan 70 korban mentransfer uang senilai Rp 500 juta, dan 580 kasus (November 2006-Juni 2007) mengatasnamakan PT Frisian Flag Indonesia dengan rata-rata tiap korban mentransfer uang Rp 7,5 juta.
 
Untuk mencegah konsumen dan produsen merugi lebih jauh oleh ulah para penipu tersebut, pemerintah dan pelaku usaha membuat kampanye Waspada Penipuan Berkedok Undian dan Promo Berhadiah!
 
Sejumlah kasus dilaporkan kepada pelaku usaha, Badan Perlindungan Konsumen, kepolisian, dan GAPMMI. Umumnya konsumen menyetor uang Rp 5 juta-Rp 15 juta kepada penipu. "Sudah banyak korban penipuan ini. Korbannya kebanyakan dari daerah," kata Ketua Umum GAPMMI Thomas Darmawan.
 
Penipuan berkedok kupon undian dan promosi berhadiah terbagi dua, yaitu penipuan langsung dan tidak langsung. Penipuan langsung dilakukan dengan memasukkan kupon palsu ke dalam kemasan produk.
 
Konsumen yakin kupon atau stiker adalah asli karena kupon menyertakan antara lain bar code walaupun sebenarnya palsu. Pada kupon itu dicantumkan juga nomor telepon yang harus dihubungi.
 
Biasanya konsumen diminta mentransfer sejumlah uang dengan alasan biaya pajak pemenang dan biaya administrasi. Surat itu dilampiri dokumen seolah-olah dari Depsos, Depperindag, dan Polda Metro Jaya yang mengatur persyaratan pengambilan hadiah. Lampiran lain adalah potongan kertas isian (asli) yang digunting dari surat kabar.
Modus lain adalah menjual produk dari rumah ke rumah. Petugas dengan menggunakan seragam satu produk tertentu menawarkan produk berhadiah langsung. Setelah mempromosikan produknya, petugas meminta sejumlah uang dari konsumen langsung di tempat itu juga.
 
Tidak minta uang
 
Penipuan tidak langsung dilakukan melalui pesan layanan singkat (SMS). Dalam pesan itu, tercantum nomor kontak yang harus dihubungi, biasanya nomor kartu CDMA yang sekilas seperti nomor kantor.
 
Operator telepon secara profesional menjawab telepon konsumen sehingga masyarakat percaya pesan singkat berhadiah itu benar adanya.
 
Calon korban lalu diminta ke ATM untuk mentransfer sejumlah uang ke rekening atas nama seseorang. Biasanya penipu menggunakan rekening tabungan asli yang dilengkapi identitas palsu.
 
Sarikit Sumantri, Consumer Relations Manager PT Nestle Indonesia, mengingatkan, "Kami tidak pernah menyelenggarakan promosi produk dengan memasukkan kupon berhadiah langsung ke dalam kemasan," kata Sarikit.
 
Pelaku usaha juga tidak pernah meminta konsumen mentransfer uang dengan dalih apa pun, termasuk membayar pajak hadiah atau biaya lain. "Kalau ada yang meminta untuk mentransfer uang dengan dalih apa pun, itu pasti penipuan!" kata Sarikit. (Pingkan Elita Dundu)
 
Kompas - 19 Agustus 2007


Salam Anti Kejahatan!

MAKI
Masyarakat Anti Kejahatan Indonesia


e-mail: maki.news@yahoo.com
blog: http://maki-online.blogspot.com


Take the Internet to Go: Yahoo!Go puts the Internet in your pocket: mail, news, photos & more. __._,_.___

Your email settings: Individual Email|Traditional
Change settings via the Web (Yahoo! ID required)
Change settings via email: Switch delivery to Daily Digest | Switch to Fully Featured
Visit Your Group | Yahoo! Groups Terms of Use | Unsubscribe

__,_._,___

No comments: