08 December 2006

Mewaspadai Penipuan Undian Berhadiah

Pasang Hotline, Undian Dimasukkan dalam Sabun

Sebaiknya Anda berhati-hati terhadap iming-iming hadiah yang berujung pada penipuan. Seiring gencarnya berbagai jenis program undian berhadiah di televisi, banyak pelaku penipuan memanfaatkan momen tersebut dengan berbagai cara.

Salah satunya seperti yang dialami Harry, 33, pada pertengahan November lalu. Mulanya, saat mandi pagi, dari dalam sabun mandi yang dia gunakan, Harry menemukan sepotong kertas dibungkus plastik.

Saat dibuka, kertas tersebut bertuliskan "Selamat, Anda pemenang hadiah kesatu berupa sebuah mobil Toyota Yaris. Untuk konfirmasi silakan hubungi hotline PT Unilever 68553411 atau hubungi Bpk Beny Wijaya, promotion manager Unilever 085885842552." Undian tersebut bernomor 073990 dan berlaku hingga November 2006.

Serasa ketiban durian runtuh, setelah membaca kertas tersebut, warga Pegangsaan RT 03/02 Menteng, Jakarta Pusat, itu langsung menghubungi nomor hotline tersebut. Penerima telepon di seberang sana langsung mengatakan kalau Harry adalah pemenang Toyota Yaris. Untuk lebih jelas, operator menyuruh Harry menghubungi seseorang bernama Beny Wijaya.

Saat menghubungi Beny Wijaya, dikatakan kalau masa berlaku undian itu sudah habis sehingga mobil Toyota Yaris yang sedianya sebagai hadiah sudah diserahkan ke Balai Lelang Balindo yang ada di Cibitung Bekasi untuk dilelang hari itu juga.

Namun, karena lelangnya baru akan berlangsung pukul 11.00 (saat itu masih pukul 10.00), Beny Wijaya yang disebut-sebut sebagai koordinator program undian, menyatakan kalau korban masih ada kesempatan untuk mendapatkan hadiah tersebut, yakni dengan membatalkan lelang.

Caranya? Saat itu juga Harry disuruh menghubungi Balai Lelang dan berbicara dengan seseorang lagi bernama Ricky Fandi. Saat dihubungi, Ricky Fandi yang disebut-sebut sebagai ketua panitia lelang mengatakan bahwa lelang masih bisa dibatalkan. Syaratnya, Harry harus membayar biaya pembatalan lelang Rp 3,5 juta ke sebuah nomor rekening.

Agar lebih meyakinkan, Ricky meminta agar transfer dilakukan sebelum pukul 11.00, lengkap dengan mengirimkan bukti slip kiriman ke sebuah nomor faks.

Beruntung, sebelum melakukan transfer, Harry sempat menghubungi nomor pelayanan 108 untuk menanyakan kebenaran nomor hotline PT Unilever. Betapa terkejut dia karena nomor hotline sebagaimana disebutkan oleh 108 berbeda dengan yang tertera di undian.

Selanjutnya, dia mengontak nomor hotline PT Unilever yang didapat dari layanan informasi 108 tadi. Pihak PT Unilever mengatakan, penipuan semacam itu sedang marak di Jakarta, Sumatera, dan Jawa. Harry baru sadar telah menjadi korban penipuan. Untung saja, dia belum sempat mentransfer uang jutaan rupiah ke rekening penipu.

Jawa Pos - 8 Desember 2006

http://www.i-library.org/index.php?option=com_content&task=view&id=4708&Itemid=26

No comments: