03 August 2007

Penipuan kupon berhadiah di sektor ritel meningkat

JAKARTA: Kasus penipuan kupon berhadiah dengan memanfaatkan produk kebutuhan sehari-hari yang dipasarkan melalui jaringan ritel modern selama semester pertama 2007 diperkirakan meningkat hingga tiga kali lipat menjadi 6.000-an per bulan dengan nilai kerugian Rp1,5 miliar.

Missi, perusahaan yang bergerak di bidang lucky draw management (pengelola undian berhadiah) menaksir kerugian dan jumlah kasus penipuan yang terjadi lebih banyak lagi, mengingat 6.000 kasus per bulan yang dideteksi perusahaan itu hanya terjadi di empat perusahaan (Unilever Indonesia, Frisian Flag Indonesia, Sari Husada, dan Nestle Indonesia).?

Sementara itu, Depsos dan Dinas Sosial yang tersebar di seluruh Indonesia sejak Juli 2006-Juli 2007, telah menerima lebih dari 100.000 laporan dari masyarakat mengenai kupon palsu.

"Penipuan makin meningkat, karena tahun lalu dalam satu bulannya [untuk empat perusahaan] hanya diterima 1.500-2.000 laporan kasus," kata Eka Putra B., Direktur Missi kepada Bisnis, kemarin.

Dari analisa Missi, masalah penipuan undian berhadiah telah menyebar ke seluruh daerah dan meresahkan masyarakat. Runyamnya, 10% dari total pelapor menyatakan sudah mentransfer uang yang diminta penipu. Besaran transfer rata-rata Rp2,5 juta.

Padahal, dalam promo berhadiah semua produk yang sedang dipromosikan, pemenang tidak pernah diminta untuk lebih dulu mentransfer uang untuk kebutuhan pajak atas nilai hadiah yang diterimanya.

Pihak kepolisian juga telah berhasil menangkap beberapa komplotan penipu, seperti terungkapnya kasus di Makassar, Jakarta, Tangerang, dan beberapa kota lainnya.? Namun, penangkapan ini tidak cukup membuat jera.

Modus operasi penipu semakin meresahkan, karena undian berhadiah palsu sampai dimasukkan ke dalam kemasan, termasuk di dalam produk yang disegel aluminium foil seperti halnya susu bubuk.

Kupon palsu bisa masuk dalam kemasan. Caranya, penipu membeli produk dalam jumlah besar kemudian membuka kemasan dan memasukkan kupon palsu ke dalamnya, lalu direkatkan kembali. Penipu kemudian menaruh produk secara diam-diam di rak toko ritel modern, area umum, dan perumahan.

Dihentikan

Dalam kesempatan terpisah, Departemen Perdagangan menginstruksikan untuk menghentikan promosi berupa undian berhadiah menyusul makin banyaknya penipuan, dan akan menyurati seluruh produsen produk eceran kebutuhan sehari-hari untuk mentaatinya.

Srie Agustina, Direktur Perlindungan Konsumen, Ditjen Perdagangan Dalam negeri, Departemen Perdagangan mengatakan Depdag akan menginstruksikan lewat surat resmi, agar penghentian promosi undian dihentikan sampai tidak terjadi lagi kasus penipuan berkedok undian berhadiah.

"Kami akan mengirimi semua produsen besar, agar mereka menjaga isi kesepakatan ini [menghentikan sementara promosi undian berhadiah," kata Srie.

(linda.slitonga@bisnis.co.id)

Oleh Linda T. Silitonga
Bisnis Indonesia


Bisnis Indonesia - Jumat, 03/08/2007

http://web.bisnis.com/edisi-cetak/edisi-harian/ritel-ukm-mikro/1id17207.html

No comments: