15 October 2007

Penumpang Taksi Dirampok - Trauma akibat Salah Memilih Taksi



Senin, 15 Oktober 2007


Penumpang Taksi Dirampok

Korbannya Lagi-lagi Perempuan

Jakarta, Kompas - Perampokan taksi dengan korban seorang perempuan kembali terjadi. Korban kali ini adalah Titik (29), bukan nama sebenarnya. Ia dirampok saat naik taksi dari Mal Taman Anggrek hendak menuju Senayan. Selain dua telepon seluler dan uang tunai Rp 300.000, jutaan rupiah uang Titik di Panin Bank dikuras.

Kepala Unit V Kejahatan dengan Kekerasan Direktorat Reserse Kriminal Umum Kepolisian Daerah (Polda) Metro Jaya Komisaris Yopie Sepang, yang dihubungi, Minggu kemarin, membenarkan adanya laporan kasus tersebut. Namun ia belum mau memberi keterangan. "Saya piket. Belum tahu kasusnya ditangani Satuan Jatanras atau Satuan Resmob, tapi laporannya sendiri sudah masuk," tuturnya.

Menurut Yopie, kasus perampokan itu dilaporkan korban ke Polda Metro Jaya pada Jumat (12/10) pukul 13.28, sedangkan peristiwanya terjadi pada Jumat pekan sebelumnya. Dalam laporan itu disebutkan, korban, warga Kalideres, Jakarta Barat, pada 5 Oktober pukul 20.00 naik taksi dari Mal Taman Anggrek.

Korban berniat menuju Plaza Senayan. Akan tetapi, sesampai di Halte BNI, Jalan Gatot Subroto, sopir taksi menghentikan kendaraannya. Dari pintu taksi tiba-tiba masuk dua orang yang kemudian duduk mengapit korban. Keduanya menodong korban dengan senjata tajam. Pengemudi membiarkan hal itu terjadi.

Diajak berkeliling

Korban tidak berkutik. Dua telepon seluler miliknya merek Nokia 9300i dan Nokia 2865 serta uang tunai Rp 300.000 dirampas perampok. Salah seorang perampok lalu menggeledah tas korban dan menemukan kartu ATM Panin Bank atas nama korban. Setelah itu, perampok meminta nomor identifikasi pribadi (PIN) dari korban.

Korban lalu diajak berkeliling kota, antara lain ke Jalan Jenderal Sudirman, Jalan MH Thamrin, Harmoni, Pasar Baru, Jalan Gunung Sahari, sampai kawasan Kemayoran. Di Kemayoran, seorang perampok turun dan menarik uang dari ATM.

Ketika ditemui kemarin sore, Titik, yang nama aslinya tak mau disebut itu, menyatakan uang tabungan di Panin Bank sekitar Rp 1,9 juta dikuras ketiga perampok itu. Dia tetap mengaku beruntung karena tidak membawa kartu kredit atau kartu tabungan yang lain pada malam itu.

"Saya trauma naik taksi. Semoga ini bisa jadi pelajaran untuk perempuan pekerja kantoran agar lebih waspada," kata Titik, yang tahu nama taksi yang dinaikinya saat kejadian itu. (win/ong)


KOMPAS - Senin, 15 Oktober 2007




Trauma akibat Salah Memilih Taksi

Akibat tergesa-gesa dan memilih sembarang taksi, Titik, bukan nama sebenarnya, dijebak perampok yang berpura-pura menyediakan jasa taksi di pengujung bulan puasa, Jumat (5/10) malam. Sepasang telepon seluler serta uang tabungan dirampas, dan yang paling membekas adalah trauma yang mendalam.

"Sekarang lebih baik naik angkot (angkutan kota) saja. Merek taksi yang sudah beberapa kali saya naiki ternyata digunakan juga untuk merampok. Tak ada jaminan menumpang taksi bonafide juga bebas dari aksi perampokan," kata Titik (29) saat ditemui, Minggu malam.

Perampokan berawal ketika seusai berbuka puasa sekitar pukul 20.00 Titik bermaksud ke rumah teman. Dia tidak sabar menunggu taksi di antrean resmi di Mal Taman Anggrek, Jakarta Barat. Ia memilih taksi berwarna putih di luar kompleks pusat perbelanjaan itu.

Saat ia menyebut tujuan ke kawasan Senayan, pengemudi sempat kebingungan. Kendaraan pun bergerak ke arah perempatan Grogol dan berputar balik.

Kecurigaan Titik lalu muncul karena pengemudi tidak masuk tol, dan seperti membuntuti satu sepeda motor di lajur paling kiri. Di dalam taksi juga tidak ada papan nama identitas pengemudi. Laki-laki pengemudi itu tidak berseragam, mengenakan jaket, dan topi yang sedikit menutup wajah.

Tiba-tiba di seberang Gedung MPR/DPR, sopir menghentikan kendaraan, membuka pintu belakang, lalu duduk di sebelah Titik. Salah satu orang yang mengendarai motor masuk mengambil alih kemudi dari pintu kiri depan. Seorang penjahat lain masuk dari pintu kiri belakang.

Mereka pun langsung mengancam Titik, meminta barang berharga, dan membawa taksi berputar-putar seraya mengintimidasi korban.

Korban kemudian meminta agar para perampok mengambil uang di anjungan tunai mandiri (ATM) tidak jauh dari kawasan Semanggi, tetapi ditolak. Di kawasan Kemayoran, perampok menguras ATM Titik pada sekitar pukul 21.30.

Saat berada di Kemayoran, Titik mencoba membuka pintu dari dalam, tetapi tidak berhasil. Pintu terkunci.

Target Rp 50 juta

Para pelaku, sambil bergurau kepada korban, mengaku bahwa pada malam itu sedang naas karena target mereka mendapat uang setidaknya Rp 50 juta. Mereka malah menawarkan kepada Titik untuk menebus telepon selulernya di sebuah pusat perbelanjaan di Blok M.

Titik mengaku para perampok berlaku sopan. Tetapi mereka mengancam Titik agar tidak macam-macam melapor ke polisi karena memegang alamat korban dan para kerabat yang terekam di telepon selulernya.

"Saya minta diturunkan tidak jauh dari tempat teman di Jakarta Selatan. Mereka setuju, tetapi saya diturunkan di sekitar SCBD ke arah Jalan Senopati yang sepi. Uang saya masih disisihkan di dompet untuk ongkos pulang," kata Titik.

Dalam keadaan terguncang, Titik menuju rumah teman dan segera memblokir rekening bank dan sepasang kartu pascabayar.

Titik baru melaporkan peristiwa yang dialaminya itu pada Jumat pekan lalu ke Polda Metro Jaya.

"Mudah-mudahan ini jadi pelajaran bagi kaum perempuan yang kerap menggunakan taksi," kata Titik. (Iwan Santosa)

No comments: