08 February 2008

[maki-online] Pengadaan Bakau 1 Miliar Bermasalah

Pengadaan Bakau 1 Miliar Bermasalah
Tuesday, 05 February 2008

SURABAYA - SURYA , Hutan bakau yang semakin gundul di pantai timur
Surabaya ternyata menyimpan masalah besar. Belakangan terungkap
dugaan adanya permainan dalam lelang pengadaan bibit bakau alias
mangrove dengan anggaran Rp 500 juta rupiah yang dilakukan Dinas
Perikanan, Kelautan, Peternakan, Pertanian dan kehutanan (DPKPPK)
Pemkot Surabaya tahun anggaran 2007. Ini belum termasuk proyek
penunjukan langsung (PL) untuk pengadaan yang sama senilai Rp 500
juta. Sehingga total anggaran yang bermasalah sekitar Rp 1 miliar.
Proyek PL)ini berjumlah 10 buah dengan nilai masing-masing Rp 50
juta.

Data yang dihimpun Surya, menyebutkan ada pembengkakan harga
perkiraan sendiri (HPS) dari setiap batang bakau dari nilai Rp
18.500 menjadi Rp 28.300.
Perubahan HPS ini justru dibuat setelah pemenang lelang diumumkan
dan kontrak pekerjaan ditandatangani.
Salah satu peserta lelang pengadaan hutan bakau kepada Surya, Senin
(4/2) menyebutkan, HPS yang harusnya dibuat oleh panitia lelang
ternyata tidak dilakukan. Namun justru didapat dari Forum Nelayan
Tinjang Lestari di Jl Bulak Tinjang 1 no 58 Surabaya. Sebuah forum
yang dituding fiktif.
"Selisih angka HPS itulah yang menjadi sumber masalah. Pemkot
melakukan pemborosan Rp 9.800 untuk setiap batang bakau. Lantas
kemana uang itu," kata sumber ini.

Lantas berapa jumlah mangrove yang dibutuhkan itu? Pada Juni 2007
lalu, pengadaan 3.000 bibit bakau dimenangkan CV Gesang Perkasa
dengan nilai Rp 127,8 juta. Sebanyak 5.000 bibit bakau digarap CV
Wahyu Nugroho dengan uang Rp 188,2 juta.
Jumlah yang sama (5.000 bibit) juga dikerjakan CV Avicenna Lestari
dengan nilai Rp 190 juta. Untuk lelang saja total proyek ini Rp 506
juta.
Dinas Perikanan, Kelautan, Peternakan, Pertanian dan Kehutanan
(DPKPPK), saat dikonfirmasi membantah dugaan adanya
permainan. "Selisih harga bakau itu karena adanya sertifikat," kata
Saiful Arifin, Pejabat Pembuat Komitmen (PPKm) DPKPPK proyek ini,
kepada Surya, kemarin.
Saiful berkilah, bahwa harga bakau itu mahal karena memiliki
sertifikat asal usulnya. Sementara ada pihak yang menawarkan bakau
berharga murah. Namun DPKPPK tidak memilihnya karena tidak jelas
riwayat pohon bakau itu.
"Seperti membeli kendaraan yang perlu BPKB, pemkot juga butuh asal
usul tanaman dengan sertifikat," katanya.
Soal harga, kata Saiful, itu hak pembuat harga yaitu Forum Nelayan.
Dia juga menyatakan forum itu bukan fiktif seperti yang dituduhkan.
Sementara Saiful justru menuding pihak yang kalah lelang lah yang
mencari-cari untuk mempersoalkan. uca

catatan :
1. Dugaan Forum Fiktif, setelah di lihat di lapangan adalah "Benar"
karena warga setempat tidak mengenal dan alamat tersebut fiktif.
2. Ada Dugaan Pemalsuan Sertifikat Bibit tanaman Tembakau
3. Ada 2 HPS
4. Harga riil bibit + penanaman dan pemeliharaan di lapangan sebesar
Rp. 5.000,-


blog: http://maki-online.blogspot.com

Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:

http://groups.yahoo.com/group/maki-online/

<*> Your email settings:
Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:

http://groups.yahoo.com/group/maki-online/join

(Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
mailto:maki-online-digest@yahoogroups.com
mailto:maki-online-fullfeatured@yahoogroups.com

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
maki-online-unsubscribe@yahoogroups.com

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:

http://docs.yahoo.com/info/terms/

No comments: